Impact News

Sektor air minum dan sanitasi telah diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai hak asasi manusia yang harus dipenuhi dan tak terpisahkan dari infrastruktur layanan dasar lainnya. Kegagalan menyediakan akses air minum dan sanitasi yang layak hingga aman kepada masyarakat akan berpotensi menimbulkan dampak negatif seperti peningkatan kasus penyakit berbasis lingkungan yang dapat menyebabkan kematian anak, morbiditas, kekurangan gizi, hingga masalah tumbuh kembang anak atau stunting.  

Berdasarkan SUSENAS tahun 2020, jumlah rumah tangga Indonesia yang telah mencapai akses air minum aman mencapai 20,69%, dan akses sanitasi aman di Indonesia baru mencapai 10,19%, artinya masih ada kurang lebih 90% masyarakat Indonesia yang belum memiliki akses air minum dan sanitasi aman. Rendahnya akses sanitasi dan air minum aman di Indonesia juga tidak terlepas dari adanya tantangan terkait perubahan iklim. 

Perubahan iklim memiliki dampak negatif yang luar biasa terhadap layanan air, sanitasi, dan kebersihan (WASH) di Indonesia. Kekeringan, banjir, kenaikan permukaan air laut, kontaminasi air laut, dan degradasi lingkungan, semuanya berkontribusi terhadap berkurangnya layanan WASH sebagai hak asasi manusia. Selama lima tahun terakhir, El Nino telah menyebabkan banyak petani di Indonesia mengalami gagal panen. El Nino juga menyebabkan kurangnya akses air bersih yang mengakibatkan masyarakat mengalami kesulitan untuk mendapatkan air minum yang juga digunakan untuk memasak, mencuci tangan pakai sabun dan melakukan praktik kebersihan lainnya. Buruknya layanan air bersih dan sanitasi telah menimbulkan dampak kesehatan bagi masyarakat, terutama anak-anak. Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa prevalensi stunting di Indonesia masih cukup tinggi, yakni mencapai 21,6% (Riskesdas 2023) di mana salah satu penyebab stunting adalah buruknya layanan air minum dan sanitasi sebagai salah satu faktor sensitif nutrisi. 

Dampak Perubahan Iklim

Dampak perubahan iklim di sektor WASH juga terjadi di wilayah Indonesia Timur (NTB dan NTT) di mana Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) saat ini bekerja. Masyarakat yang tinggal di wilayah ini telah menyaksikan dampak perubahan iklim di sektor WASH dalam 10 tahun terakhir semakin memburuk. Menurut Rencana Adaptasi Nasional (RAN) Indonesia dan Bank Dunia, provinsi NTT dan NTB sangat rentan terhadap risiko dan bahaya iklim, yang meliputi peristiwa cuaca yang tidak menentu seperti kekeringan, pola curah hujan yang berfluktuasi, dan banjir. Selama fenomena El Nino (2017-2018), Kabupaten Lombok Tengah (NTB), Belu dan Malaka (NTT) mencatat suhu tertinggi hingga saat ini dan diperkirakan akan mengalami penipisan sumber daya air hingga tahun 2045.  

Di Kabupaten Manggarai, Belu dan Lombok Tengah kekeringan juga berdampak pada toilet dengan sistem siram yang biasa digunakan oleh masyarakat. Pada musim kemarau, masyarakat tidak memiliki cukup air untuk menyiram toilet. Hal ini dapat menyebabkan risiko masyarakat kembali melakukan buang air besar sembarangan di hutan ataupun di sungai. Selain itu, selama musim kemarau, perempuan dan anak perempuan harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengambil air di lokasi yang jauh dari rumah. Bagi anak perempuan, kondisi ini memaksa mereka untuk meninggalkan bersekolah. Kekurangan air juga menyebabkan perempuan dan anak perempuan tidak dapat mengelola kesehatan dan kebersihan menstruasi dengan baik. 

Sementara itu, di Kabupaten Malaka, masyarakat telah mengalami cuaca ekstrem selama 5 tahun terakhir sebagai dampak dari perubahan iklim. Siklon tropis terjadi tiga kali antara tahun 2017 dan 2021 dengan siklon terakhir, Siklon Seroja, yang dilabeli sebagai bencana iklim. Siklon tropis ini telah merenggut ribuan korban jiwa dan menghancurkan 66.036 rumah termasuk fasilitas WASH. Siklon Seroja juga telah menyebabkan ribuan orang Malaka mengungsi dari rumah mereka. Di pengungsian, para pengungsi tidak dapat mengakses fasilitas WASH yang memadai. Orang dengan disabilitas bahkan mengalami situasi yang lebih sulit karena toilet yang berada di pengungsian selain jumlahnya sangat terbatas juga tidak ramah disabilitas.  

Kerja Plan Indonesia untuk Air dan Sanitasi

Selama 10 tahun terakhir, Plan Indonesia telah membantu pemerintah Republik Indonesia dalam mewujudkan tercapainya SDG 6, Air dan Sanitasi untuk Semua, di tahun 2030 melalui berbagai program WASH yang telah dilaksanakan di beberapa wilayah Indonesia. Tidak hanya itu Plan Indonesia juga telah mengintegrasikan perubahan iklim di dalam desain program WASH untuk memastikan layanan WASH dapat berketahanan iklim. Plan Indonesia telah mengintegrasikan perubahan iklim dan GESI di dalam Program WASH yakni melalui Community Based GEDSI Transformative Climate Resilient WASH dan Integrated Water Resource Management (IWRM). Integrasi perubahan iklim di dalam program WASH telah dilaksanakan di Indonesia Timur dengan dukungan dari Pemerintah Belanda, Pemerintah Australia melalui program Women & Disability Inclusive and Nutrition Sensitive WASH (WINNER) dan Water for Women. Plan Indonesia juga telah menginisiasi program ketersediaan air melalui kegiatan penggalangan dana Jelajah Timur. Jelajah Timur merupakan charity run event yang bertujuan untuk mengumpulkan pendanaan dari masyarakat dan para donatur yang mengikuti event ini. Melalui portofolio WASH, Plan Indonesia telah mendorong partisipasi pemerintah, perusahaan swasta, donor individual dan kelompok marinal termasuk perempuan, anak perempuan, remaja dan orang dengan disabilitas untuk terlibat dalam pembangunan WASH yang berkelanjutan, inklusif dan berketahanan iklim. Strategi program terdiri dari komponen advokasi kebijakan melalui riset dan evidence based, peningkatan kapasitas bagi agen perubahan termasuk Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), kaum muda, organisasi disabilitas danpara ahli serta penerapan solusi berbasis alam (nature-based solution) melalui penerapan nilai-nilai dan praktik lokal di masyarakat.  

Hingga saat ini Program WASH Plan Indonesia telah menjangkau 8 juta orang, termasuk melibatkan organisasi perempuan, kelompok remaja dan organisasi disabilitas dan telah berhasil memberikan peningkatan akses air minum dan sanitasi bagi masyarakat yang paling membutuhkan. Melalui program WASH, Plan Indonesia telah membawa 9 Kabupaten di Indonesia yakni Grobogan, Rembang, Lombok Tengah, Sumbawa, Mataram, Manggarai, Kupang, Belu dan Malaka menuju menjadi kabupaten 100% Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS).  

World Water Forum di Bali 2024

Sebagai bentuk membagikan praktik baik dan pembelajaran, Plan Indonesia berpartisipasi dalam forum World Water Forum 2024 yang ke-10 (WWF ke-10) yang merupakan acara internasional yang bertujuan untuk memberikan platform dialog dan diplomasi antar pemangku kepentingan tentang air dan sanitasi untuk menjawab berbagai tantangan global di sector WASH. Selain itu WWF ke-10 juga bertujuan untuk membangun aliansi, memobilisasi dukungan dan investasi untuk pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan. WWF ke-10 diselenggarakan oleh Pemerintah Indonesia melalui kerja sama dengan World Water Council di Nusa Dua, Bali pada tanggal 20-24 Mei 2024 dan dihadiri oleh lebih dari 60 ribu peserta yang berasal dari lebih dari 100 negara dan 30 organisasi dan perusahaan swasta.  

Di dalam forum tersebut, Plan Indonesia terlibat di beberapa sesi diskusi yakni Pelatihan Climate Resilient WASH untuk jurnalis, Talkshow Inclusive Climate Resilient and Integrated Water Management di Dutch Pavilion, Applying Local Culture and in IWRM, Sharing Lesson Learned on Climate Resilient WASH Tool serta terlibat di dalam sesi tentang Protecting The Rights of Women, Children and Marginalized Group. Di dalam forum ini juga Plan Indonesia melibatkan salah satu perwakilan dari organisasi disabilitas Kabupaten Malaka yang juga ikut serta secara aktif di dalam sesi-sesi diskusi.  

Suatu pencapaian bagi Indonesia bisa menyelenggarakan event internasional yang dihadiri oleh lebih dari 60 ribu peserta dari lebih 100 negara dan 30 organisasi dan perusahaan swasta, namun lebih dari itu tindak lanjut dari WWF ke-10 juga merupakan hal yang tidak kalah penting untuk dilakukan oleh para pemangku kepentingan WASH. Setidaknya ada 4 hal strategis yang harus kita tindak lanjuti, yakni: 

 

Memperkuat adaptasi perubahan iklim dan aksi iklim di sektor WASH dan pengelolaan sumber daya air minum adalah langkah yang sangat penting untuk memastikan keberlanjutan layanan WASH di tengah situasi perubahan iklim.  
Partisipasi kelompok-kelompok yang terpinggirkan seperti perempuan, anak perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas dalam pembangunan WASH yang tangguh terhadap iklim merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari layanan WASH yang efektif dan mudah diakses serta memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal. 
Pembangunan sector WASH harus dilaksanakan secara komprehensif dengan menggunakan pendekatan Nexus yakni melalui integrasi WASH dengan GEDSI, perubahan iklim, respon humanitarian dan kebencanaan serta keberlanjutan lingkungan. Kerangka Nexus di sector WASH sangat diperlukan untuk memastikan layanan WASH dapat berkelanjutan dan inklusif 
Memperkuat kolaborasi antara pemerintah, media, komunitas/CSO, sektor swasta dan akademisi adalah kunci untuk mencapai target ambisius SDG 6. Tanpa kolaborasi berbagai pihak target pencapaian SDG 6 akan sulit tercapai. 

Plan Indonesia, mengundang semua pihak untuk berkolaborasi dalam Program WASH yang beketahanan iklim untuk diimplementasikan di yang paling membutuhkan di Indonesia. Kita tidak dapat mencapai ambisi untuk mewujudkan layanan WASH yang tangguh terhadap iklim dan inklusif, tanpa dukungan dan upaya bersama. Mari bergandengan tangan dalam mewujudkan target SDG 6, di mana masyarakat, terutama kelompok marjinal, dapat memperoleh layanan WASH yang berkelanjutan, adil, dan inklusif yang sangat penting bagi kesehatan dan kesejahteraan mereka. 

Penulis: Herie Ferdian

The post Refleksi World Water Forum ke-10, Bali 2024: Antara Target Global dan Tantangan Lokal Indonesia appeared first on Plan International.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEN