Impact News

Walaupun menjadi sektor yang paling rentan terhadap perubahan iklim, sektor pariwisata juga berkontribusi pada peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK) sebagai penyebab utama krisis iklim.

Menurut penelitian UNWTO/ITF yang dirilis pada Desember 2019 di COP25 UNFCCC, emisi CO2 dari pariwisata diperkirakan akan meningkat setidaknya sebesar 25% pada tahun 2030 dalam skenario bisnis seperti biasa.

Sayangnya, kegiatan pariwisata juga tidak dapat dihentikan. Banyak warga yang menggantungkan hidupnya pada industri ini. Terlebih, bagi negara seperti Indonesia yang memiliki beragam potensi dari mulai bentang alam, hingga aspek suku dan budayanya.

Bahkan, pada bulan Mei 2023, Bandar Udara Ngurah Rai Bali menjadi pintu masuk utama wisatawan mancanegara. Aset pesisirnya menjadi daya tarik wisatawan untuk terus berkunjung kesana. Namun, disisi lain, pemutihan karang kian meningkat, juga terkikisnya garis pantai yang semakin mengkhawatirkan.

Untuk menjawab tantangan perubahan iklim ini, diperlukan banyak solusi berkelanjutan terutama di bidang pariwisata. Salah satunya adalah penerapan sustainable traveler pada saat berwisata. Sustainable traveler adalah bagaimana cara kita sebagai turis menghargai lingkungan dan sumber daya alam di destinasi tempat kita berwisata.

Setidaknya, terdapat tiga cara yang dapat kita lakukan untuk menerapkan sustainable traveler agar sektor pariwisata terbebas dari perubahan iklim:

Pilih akomodasi yang ramah lingkungan. Saat memesan akomodasi, carilah hotel atau penginapan yang memiliki kebijakan ramah lingkungan seperti penggunaan energi terbarukan, daur ulang, dan pengurangan limbah.
Gunakan transportasi berkelanjutan. Kita dapat memilih opsi transportasi umum, bersepeda, atau berjalan kaki jika memungkinkan. Jika harus menggunakan kendaraan pribadi, pertimbangkan untuk berbagi perjalanan atau memilih mobil yang lebih efisien dalam hal bahan bakar.
Berwisata sekaligus menjaga alam. Kita dapat berwisata sekaligus berpartisipasi dalam program konservasi yang diselenggarakan di destinasi wisata yang akan kita kunjungi. Banyak tempat wisata alam menawarkan program sukarela yang memungkinkan kita, para wisatawan, untuk berkontribusi langsung dalam pelestarian lingkungan.
Ekowisata. Selain berwisata beberapa daerah di Indonesia sudah menawarkan konsep ekowisata, berwisata sambil belajar dari alam. Contoh Tanaman Nasional Komodo di Flores NTT selain bertemu dengan hewan komodo, kita juga bisa menyelam di laut sekitar pulau komodo sambil melihat terumbu karang dan 1000 spesies ikan.

Kita semua memegang peranan penting dalam mengurangi dampak perubahan iklim ini. Yuk, bersama-sama untuk menjaga kelestarian alam untuk bumi kita!

The post Pariwisata Terancam Perubahan Iklim: Bagaimana Solusinya? appeared first on Plan International.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEN