Impact News

Krisis iklim memberikan risiko berbahaya bagi kesehatan manusiabaik secara langsung maupun tidak langsung, dimanapun mereka berada, termasuk di Indonesia.

Di Indonesia penyakit menular oleh vektor yang perlu diwaspadai adalah malaria dan demam berdarah. Peningkatan suhu lingkungan menyebabkan nyamuk Anopheles sundaicus (menularkan malaria) dan Aedes aegypti (menularkan demam berdarah) lebih mudah berkembang biak. Disamping itu, migrasi penduduk dari desa ke kota, antar-kota dan antar-pulau juga memungkinkan malaria berpindah dari daerah endemis ke tempat yang baru. Pengendalian vektor yang memadai dapat mencegah penularan malaria dan demam berdarah.

Masalahnya, banyak nyamuk kebal terhadap insektisida dan pemerintah kekurangan biaya untuk memantapkan sistem pengendalian vektor, karena biaya yang tersedia harus digunakan untuk keperluan yang lebih mendesak, misalnya penanggulangan bencana alam, kurang gizi dan penyakit infeksi lainnya. Penyakit yang tidak ditularkan melalui vektor juga mengalami peningkatan, seperti penyakit-penyakit yang berhubungan dengan air (non-vector disease related to water).

Ada tiga kelompok penyakit ini, yaitu:

Water-based disease, air berperan sebaga habitat vektor penyakit;
Water-borne disease, air sebagai habitat dan pembawa bibit penyakit; dan
Water-washed disease, yaitu penyakit yang dapat dihindari dengan mencuci tangan dan penyiapan makanan yang besih.

Contoh water-borne disease yang masih memerlukan perhatian di Indonesia adalah: 1. diare yang disebabkan oleh Escerichia coli, Vibrio cholerae,Salmonella dan virus; 2. penyakit virus lainnya seperti hepatitis A dan poliomyelitis; dan 3. penyakit parasit seperti giardiasis dan disentri amuba. Penyakit-penyakit ini meningkat karena akses terhadap air bersih di Indonesia masih rendah (50%), kontaminasi air sumur dan permukaan tanah oleh banjir dan kegiatan manusia (berak sembarangan).

Water-washed disease disebabkan karena air bersih akan dipakai untuk memasak dan minum, daripada untuk mencuci tangan karena alasan ekonomi. Akibatnya tangan yang kotor dapat menularkan penyakit seperti cholera, disentri basiler, cacing gelang, cacing cambuk dan cacing kremi. Penyakit-penyakit ini banyak dijumpai di tempat yang sanitasinya jelek (Slamet, 2000). Penyakit cacing juga dapat ditularkan melalui tanah. Perubahan iklim global menyebabkan suhu dan kelembaban di dalam tanah meningkat, sehingga telur cacing mudah menetas dan tahan hidup lama di dalam tanah, ini memudahkan penularan ke manusia.

Penyakit yang ditularkan melalui udara (airborne disease), seperti radang paru-paru akan meningkat. Bersama dengan kepadatan penduduk, kurang gizi, akses terhadap pelayanan kesehatan yang sulit, dan urbanisasi tak terkendali, maka perubahan iklim global dengan segala akibatnya akan meningkatkan penyakit-penyakit seperti TBC, lepra, penyakit kulit dan lain-lain (WHO, 1990).

Selain itu, asap kendaraan dan industri juga berdampak buruk bagi kesehatan terutama  Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Di lain sisi aktivitas pertambangan juga menghasilkan metal dan metaloid dalam konsentrasi tinggi yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Penggunaan metode tradisional penambangan secara terus menerus dapat meningkatkan emisi produk beracun dan produk tidak ramah lingkungan lainnya. Efek jangka panjang pertambangan batubara seperti gangguan pernapasan pneumokoniosis.

Hal ini dikarenakan tambang batu bara menghasilkan banyak debu yang jika terhirup dapat menyebabkan flek hitam di paru-paru para pekerja atau orang lain yang tinggal di wilayah sekitar. Peledakan dan pengeboran dalam proses pertambangan juga menghasilkan mineral halus pada debu yang bisa terhirup dan menumpuk di paru-paru sehingga jadi penyebab pneumokoniosis.

Upaya tanggulangi krisis iklim

Krisis iklim hampir memengaruhi semua aspek hidup manusia, terutama dalam bidang kesehatan. Jika upaya pemerintah dalam menanggulangi krisis iklim tidak diperkuat oleh dukungan dari sektor swasta serta melalui kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan, tentu kita yang akan merasakan dampaknya. Selain pemerintah dan organisasi-organisasi yang ada, kita pun juga memiliki peran untuk andil dalam memerangi perubahan iklim, apalagi dampaknya sudah mulai terasa.

Apa yang bisa kita lakukan? Menjaga kebersihan lingkungan, dengan merawat ruang terbuka hijau, beralih pada energi terbarukan dan hemat energi serta konsisten untuk menerapkan gaya hidup ramah lingkungan.

The post Krisis Iklim Menyebabkan Penyakit Kian Banyak! appeared first on Plan International.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEN