Impact News

Di tengah upaya Indonesia dalam mengatasi perubahan iklim, justru masih ada anggapan salah kaprah terkait perubahan iklim. Hal ini berpotensi merugikan dan berbahaya dalam upaya mengatasi fenomena global dari perubahan iklim. Menurut survei YouGov pada 2020, Indonesia menempati peringkat pertama sebagai negara dengan dengan banyak warga yang tidak mempercayai perubahan iklim. Survei kepada 26 ribu responden dari 25 negara ini, sebanyak 21 persen responden Indonesia mengaku “perubahan iklim tidak terjadi” atau “perubahan iklim memang terjadi tetapi bukan manusia yang bertanggung jawab”.

Menghindari anggapan salah kaprah tentang perubahan iklim dan mengandalkan informasi ilmiah yang akurat merupakan senjata penting dalam upaya mengatasi perubahan iklim. Mengenali pentingnya tindakan kolektif dan individu untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan beradaptasi dengan perubahan iklim adalah kunci dalam menghadapi tantangan ini. Lalu, sebenarnya apa saja anggapan salah kaprah yang masih beredar di masyarakat tentang perubahan iklim?

1. Perubahan Suhu Tidak Berdampak Pada Kesehatan Manusia

Dampak akibat risiko perubahan iklim bukan hanya berdampak pada semakin hangatnya suhu bumi, namun juga berisiko pada munculnya penyebab penyakit. Salah satu dampaknya adalah cuaca ekstrem, bertambahnya curah hujan meningkatkan kuantitas air, tapi menurunkan kualitasnya. Hal ini dapat memicu gangguan kesehatan berupa malaria, kolera, demam berdarah, dan lain sebagainya.

2. Tidak Ada yang Bisa Kita Lakukan

Anggapan setiap orang atau sebuah negara tidak dapat berkontribusi dalam mengatasi perubahan iklim bisa menjadi penghambat bagi upaya kolektif untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Setiap tindakan kecil yang kita lakukan, perusahaan, atau pemerintah, dapat berkontribusi dalam mengurangi dampak perubahan iklim. Justru upaya kolektif ini perlu untuk mengatasi dampak perubahan iklim yang semakin merusak.

3. Perubahan Iklim Hanya Masalah Jangka Panjang

Jika kita telaah lebih dalam dampak perubahan iklim sebenarnya telah kita rasakan, seperti kenaikan suhu, cuaca ekstrem, kenaikan permukaan laut, banjir dan longsor. Masalah yang terjadi akibat perubahan iklim ini bisa menjadi lebih sering terjadi dan makin parah jika kita tidak bertindak dan bergerak bersama dalam upaya mengatasi krisis iklim.

4. Perubahan Iklim Adalah Fenomena Alami dan Manusia Bukanlah Penyebabnya

Beberapa orang mungkin menganggap bahwa perubahan iklim adalah proses alami dan bukan akibat aktivitas manusia. Padahal, berbagai bukti ilmiah menunjukkan bahwa peningkatan gas rumah kaca akibat aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil dan deforestasi, adalah penyebab utama perubahan iklim saat ini.

5. Perubahan Iklim Hanya Masalah Lingkungan

Perubahan iklim memiliki dampak yang luas dan kompleks, termasuk pada aspek sosial, ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Menganggapnya hanya sebagai masalah lingkungan bisa mengabaikan dampaknya pada sektor lain. Misalnya, akibat banjir masyarakat tidak dapat bekerja dan petani gagal panen karena persawahan mereka terendam banjir.

6. Upaya Saling Menunggu dalam Menyelesaikan Masalah Lingkungan

Penundaan akibat aktivitas saling menunggu dalam upaya menyelesaikan masalah lingkungan dapat berpotensi akan semakin merusak lingkungan dan menyebabkan dampak perubahan iklim yang semakin parah. Dampaknya, ekosistem dan keanekaragaman hayati dapat mengakibatkan kerusakan permanen pada spesies tumbuhan dan hewan serta ekosistem alami. Ini bisa mengganggu keseimbangan alam dan mengganggu layanan ekosistem penting bagi manusia.

Menghadapi informasi yang keliru tentang perubahan iklim merupakan upaya penting karena dampaknya dapat merugikan masyarakat dan menyulitkan upaya penanganan perubahan iklim. Pendidikan dan kesadaran masyarakat penting agar setiap orang dapat mengidentifikasi dan menghindari informasi tidak benar. Selain itu juga agar setiap orang untuk dapat mengambil keputusan berdasarkan pada fakta dan bukti yang akurat.

Untuk menghindari anggapan salah kaprah, Plan Indonesia ketika melakukan kegiatan bersama kaum muda untuk perubahan iklim, maka perlu memastikan kaum muda memiliki pengetahuan dan keterampilan perubahan iklim yang baik. Kaum muda diberikan kelas terkait perubahan iklim, perlindungan, kesetaraan gender dan juga kepemimpinan. Setelah melewati kelas, maka kaum muda diberikan kesempatan untuk beraksi. Dengan proses yang dibangun ini maka dapat dipastikan bahwa kaum muda yang terlibat benar benar memahami perubahan iklim dengan baik, dan tidak mendorong aksi yang keliru atau berdampak negatif pada lingkungan.

The post 6 Anggapan Salah Kaprah Bikin Perubahan Iklim Makin Darurat! appeared first on Plan International.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEN